Thursday, 8 April 2010

BAYANGAN TAK TERLUPAKAN



Bayang-bayang kuntilanak pada tadi malam benar-benar membuat cecep anak SMP kelas 9 ini shock berat pasalnya dia hari ini berangkat sekolah dengan wajah merah pucat,kelopak matanya menyempit,dan sesekali dia memandang kedepan dengan pandangan kosong.Sedang Sato teman satu kelas cecep mencoba menghiburnya siska teman wanita cecep ikut bergabung .Sambil menunggu bel berbunyi dari teras kelas mereka bercakap-cakap meski cecep tak conect untuk bicara.
“Lupakanlah cep jadikan itu pengalaman”kata aku
Cecep bengong, diam tanpa kata seolah dia tak mendengar pembicaraan temannya
“Hei kamu nggak apa-apa” Seto menyadarkan bengong cecep
Untuk kedua kalinya dia tidak menjawab pertanyaan itu
“Pull”Panggilan Seto “Emang ada apa sih dengan si cecep”tanya siska
“Ah mau tahu aja urusan laki-laki”ejek Seto
Dalam keramaian pembicaraan itu, lagi dan lagi cecep tak merespon sepatah katapun hanya mengangguk dan hanya mengisyaratkan tubuhnya agar aku tidak bercerita kejadian tadi malam
“Teman kamu tuh sejak tadi berangkat bengong aja”penasaran
“Mungkin diputusin pacar kali”Seto berbohong
“Nggak mungkin, kamu bohong kan”
“kok bisa tahu “
“Ya iyalah, boro-boro pacaran ketemu wanita aja malu-malu kok”
“Kalau aku cerita ama kamu dia marah nggak ya”bicara pelan-pelan
“Aku jamin pasti tidak”
Setopun bergeser ke kiri menjauh dari Cecep,Cecep hanya menengok kearah siska dengan wajah pasrah persis orang gila.Dan Cecep menjadi pembicaran teman-teman karena nggak biasa Cecep yang selalu periang itu berubah drastis seperti orang stress.Sato pelan-pelan menceritakan kejadian tadi malam pada Siska.
Pada tadi malam kita berjalan-jalan ke rumah Pak Heru guru pembimbing untuk meminta saran untuk ujian nasional kami bicara-bicara tentang persiapan ujian nasional kita hingga larut malam tepatnya pukul 24:00 dan karena sudah malam kita berdua pulang kerumah tapi sebelum keluar rumah kita di beri pesan”.cerita Sato panjang lebar
“Awas ya di jalan bacalah ayat alqur’an”nasehati Pak heru
“Ada apa pak”penasaran Sato
“Ada pohon beringin katanya ada setannya”serius Pak Heru
“Ah bapak jangan nakut-nakutin kita dong”wajah pucat
“Bapak juga nggak tahu benar atau tidak”
“Kalau aku bertemu setan akan kun tonjok dia”canda Cecep
“Haaaa bercanda kamu”tertawa Sato

“Stttttt”akhirnya kata itu keluar dari mulut Cecep mereka tak menghiraukan peringatan itu.Dan Sato terus ngoceh ketika Cecep menengok

Mereka melangkahkan kaki dengan penuh was-was yang menyelimuti hati pergi dari rumah Pak Heru pelan tapi pasti mereka terus melanjutkan jejak kaki meski ada perasaan takut.Suara jangkrik yang bersenandung didepan,belakang ,kanan,kiri membuat mereka bertambah khawatir
“Itu suara apa Cep”takut
“Itu kan hanya jangkrik”mengejek
“Tapi dimana sih pohon beringin itu Cep”
“Halah jangan di takutkan dia kan nggak bisa makan kita”
Prok,prok,prok suara sandal mereka berdua sangat terdengar jelas pada malam yang kebetulan malam jum’at disertai hujan gerimis yang membasahi sekujur tubuh mereka dan seperti pucuk daun pohon beringin itu semakin terlihat jelas badan kami merinding menggigil seperti kedinginan dan rasanya seperti di kuburan.
“Tu,tu pohon beringin terlihat menyeramkan”Khawatir Sato
“Tenang aja ada aku nih”berjiwa patriotik
“Kamu bisa baca ayat kursi kan”
“Nggak perlu baca yang gitu-gituan”
“Ah aku aja yang lah yang baca ayat alqur’an”
“Terserah kamu ajalah”
Sato membaca ayat alqur’an dengan merundukkan kepalanya berjalan di belakang Cecep.Sebelum sampai di pohon beringin Sato kembali ngewel minta diajak kencing padahal hanya beberapa meter saja dari pohon beringin itu
“Aduh sudah nggak kuat nih pingin keluar”
“di tahan dulu sampai di rumah saja”
“Lihat ada bayangan apa itu”menunjuk bayangan putih
“kamu salah lihat kali aku nggak percaya sama setan”
Tepat di depan pohon beringin terlihat bayang –bayang putih,rambut panjang,dan melayang.Daun pohon beringin berayun-ayun dan mengeluarkan suara gaduh,bising.Mereka hanya diam tanpa suara yang keluar dari mulut keduanya.
“Ada kuntilak terbang tu”Sato
“Kamu mungkin hanya halusinasi ”Cecep
“Nggak, coba lihat keatas pohon itu”
“Wahhhh apaan putih-putih itu”kaget
“Kamu percaya kan”
“Iy.Iy.Iy....iya”sulit berbicara
“Aku punya jurus canggih ”Sato
“Jurus apa?”
“1,2,3 la,la,la...lariiiiiiii”membiarkan Cecep dipohon beringin itu
“Jangan, tunggu aku dong”
“Emang kenapa”berhenti sejenak
“Kakiku terjebak dilumpur”tiba-tiba kakinya tak bisa digerakkan
“Ah aku takut setan”terus melangkahkan kaki

Sejenak Sato terdiam dari ceritanya lupa setelah itu apa yang terjadi
“hey,hey setelah itu apa” Siska penasaran
“Sebentar aku lupa nih”pikir-pikir
“Masa baru tadi malam lupa”
“Iyalah karena tadi malam seram banget”
“Oh iya aku ingat”

Seto dengan mulut bak-blakan cerita peristiwa itu lagi tanpa mengkhawatirkan keadaan Cecep yang masih trauma

Tiba-tiba kuntilanak ada didepan cecep.dia sangat kaget terdengar minta tolong sangat keras
“Tolonggggg”menjerit
“Kenapa tuh”dari jauh mendengar
Sato mendengar jeritan itu dan kembali menuju pohon beringin itu.Dia melihat Cecep sudah terbaring tak berdaya dengan mata terpejam dia was-was dengan keadaan Cecep dan takut bila setan itu kembali lagi
“Cep,Cep kamu nggak apa-apa Cep”menyadarkan sambil melihat kanan kiri
Cecep masih tak berdaya Sato memutuskan mombopong badannya yang cungkring itu dengan hati-hati ketika itu hujan mulai turun lebat.selang waktu berjalan dia akhirnya sadar dari pingsannya
“Kenapa kamu menggendong aku”lupa kejadian itu
“Kamu itu pingsan tadi”
“Turunkan aku”
“Kamu melihat apa tadi”
“Nggak tahu tadi aku melihat wajah cantik,rambutnya lurus tapi matanya berwarna merah”
“Kamu bisa jalan sendiri kan”
“Aduh pusing kepalaku”
Malam itu mungkin malam tersial untuk mereka, pelan-pelan Sato menuntun Cecep diatas pundaknya hingga di depan rumah Cecep.Tepat waktu itu hujan mulai reda dan kulihat jam didepan menunjuk waktu di angka 1:13 ternyata orang tua Cecep masih duduk didalam rumah sambil menunggu kedatangan Cecep
“Tok,tok Assalamuallaikum”salam Sato membaringkan badan Cecep dikursi teras
“Wa’alaikum salam”jawab orang tua Cecep
“Wah kenapa Cecep nak”
“Dia tadi pingsan”
Sato masuk kedalam dan menceritakan panjang lebar tentang awal kejadian itu hingga dia membawa Cecep dalam keadaan tak berdaya hingga waktu menunjuk pukul 3:00 dan Sato pamit pulang karena hari sudah pagi dan besok harus masuk sekolah.

“O gitu tho kejadiannya”
Teetttttttt...bel sekolah menjeritkan suaranya dan terlihat Bu Ani keluar dari ruang guru
Dan menuju ke ruangan kita
“Ayo kita masuk kelas”Siska
“Ayo Cep”Sato
Tak menjawab sambil berdiri dari kursi diteras kelas dan memulai pelajaran seperti biasa.



11 comments:

  1. Cer!tane udah bagus & menarik,
    Q jd bngung mau komentar apa.
    Za udah tak ksih nilai 73

    ReplyDelete
  2. cerpennya menarik tapi bahasa yang digunakan kurang menarik dan akhir ceritanya nggak jelas(80)

    ReplyDelete
  3. cerpennya menarik tapi penggunaan bahasa yang kurang mebnarik perlu di ubah dan akhir ceritanya perlu di perjelas 78 cukupkan.

    ReplyDelete
  4. cerpennya menarik tapi bahasa yang digunakan kurang menarik dan akhir ceritanya nggak jelas, penggunaan bahasa yang kurang mebnarik perlu di ubah dan akhir ceritanya perlu di perjelas serta .aku beri nilai 80

    ReplyDelete
  5. cerpennya cukup menarik dn agak menakutkan
    tapi dalam gaya bahasa terlalu amazing jadi susah untuk di mengerti bagi orang awam seperti saya..
    alurnya kurang begitu jelas dan karakter tokoh terlalu terbuka.
    tapi semuanya sudah begitu bagus mungkin perlu di perkembangkan lgi adja...
    saya beri nilai 74..okre

    ReplyDelete
  6. cerpennya bagus sekali tapi perlu di kembangkan,untuk itu aku memberimu nilai 79

    ReplyDelete
  7. ceritanya udah bagus. penggunaan nama sudah sesuai. namun akan lebih baik lagi jika latar dan suasananyapun diperjelas agar para pembaca dapat menempatkan dirinya pada posisi yang tepat. dan kalau bisa sang tokoh ikut dalam dialog. saya nilai 80. sukseskan slalu kreasimu.

    ReplyDelete
  8. Cecep seharusnya dimulai kata kapital. Siska juga. Sebaiknya dalam percakapan menggunakan kata baku.

    “Nggak mungkin, kamu bohong kan”
    seharusnya diikuti tanda baca penthung.
    Banyak sekali kesalahan penulisan penggunaan huruf capital.
    Didepan
    Kalau menunjukkan tempat seharusnya diberi sepasi.
    Prok,prok,prok
    Itukan suara sepatu. Bukan sandal.
    “Aku punya jurus canggih ”Sato
    “Jurus apa?”
    “1,2,3 la,la,la...lariiiiiiii”membiarkan Cecep dipohon beringin itu
    masak dalam keadaan seperti itu masih bisa bercanda.
    bak-blakan
    kuran penulisan l.

    ReplyDelete
  9. cerpennya bagus,,,,
    Tapi cara menceritakan peristiwa yang menakutkan kurang menjiwai....
    Dan cara penulisan setelah dialog juga kurang mudah di fahami.... ex:
    “Ayo kita masuk kelas”Siska
    “Ayo Cep”Sato

    seharusnya:
    "Ayo kita masuk kelas,"ajak Siska.
    "Ayo Cep,"ajak Sato pula pada Cecep.

    thanks...(74)

    ReplyDelete
  10. cerpennya bagus,,,,
    Tapi cara menceritakan peristiwa yang menakutkan kurang menjiwai....
    Dan cara penulisan setelah dialog juga kurang mudah di fahami....

    namun akan lebih baik lagi jika latar dan suasananyapun diperjelas agar para pembaca dapat menempatkan dirinya pada posisi yang tepat. dan kalau bisa sang tokoh ikut dalam dialog.

    maka kunilai 74

    ReplyDelete
  11. Cerpennya sudah bagus, yang perlu diperbaiki hanya pemilihan kata.
    Seharusnya penulisan antar dialog dipisah, tapi punyamu malah disambung.

    Cuma itu aja commendku , aku kasih kamu nilai 78.

    ReplyDelete

Wellcome