Monday, 19 April 2010

BAYANGAN PUTIH (RIVISI)

Oleh Nur Rohmad

Bayang-bayang putih pada tadi malam benar-benar membuat Cecep, anak SMP kelas 9 ini shock berat. Akibatnya dia hari ini berangkat sekolah dengan wajah merah pucat,kelopak matanya menyempit,dan sesekali dia memandang ke depan dengan pandangan kosong.Sedang Sato teman satu kelas Cecep mencoba menghiburnya. Siska teman wanita cecep ikut bergabung.Sambil menunggu bel berbunyi dari teras kelas mereka bercakap-cakap meski Cecep tidak conect untuk bicara.

“Lupakanlah, Cep! Jadikan itu pengalaman!”kataku.

Cecep bengong, diam tanpa kata seolah dia tak mendengar pembicaraan temannya

“Hei kamu nggak apa-apa kan?” Sato menyadarkan bengong Cecep.

Untuk kedua kalinya dia tidak menjawab pertanyaan itu.

“Pull....!” panggilan Sato.

“Emang ada apa sih dengan si Cecep?”tanya Siska.

“Ah mau tahu aja urusan laki-laki,”ejek Sato.

Dalam keramaian pembicaraan itu, lagi dan lagi Cecep tak merespon sepatah kata pun hanya mengangguk dan hanya mengisyaratkan tubuhnya agar aku tidak bercerita kejadian tadi malam.

“Teman kamu tuh sejak tadi berangkat bengong aja!”

”Tanya saja sendiri!”

“Dia kan temanmu!”

“Emang kamu nggak?”

“Ayolah sama teman kan harus berbagi!”

“Okelah tapi dia marah nggak?” katanya pelan-pelan.

“Aku jamin pasti tidak!”

Sato pun bergeser ke kiri menjauh dari Cecep. Cecep hanya menengok ke arah Siska dengan wajah pasrah persis orang gila.Dan Cecep menjadi pembicaran teman-teman karena nggak biasa Cecep yang selalu periang itu berubah drastis seperti orang stress.Sato pelan-pelan menceritakan kejadian tadi malam pada Siska.

”Tadi malam kita berjalan-jalan ke rumah Pak Heru guru pembimbing untuk meminta saran untuk ujian nasional kami bicara-bicara tentang persiapan ujian nasional kita hingga larut malam tepatnya pukul 24.00 dan karena sudah malam kita berdua pulang kerumah tapi sebelum keluar rumah kita di beri pesan,” kata Sato panjang lebar.

“Awas ya di jalan, ” kata Pak Heru nasihati.

“Ada apa pak?” kata Sato penasaran.

“Ada pohon beringin katanya ada setannya!” serius Pak Heru.

“Ah, Bapak jangan nakut-nakutin kita dong!” kata Sato dengan wajah pucat

“Bapak juga nggak tahu benar atau tidak.”

“Kalau aku bertemu setan akan kun tonjok dia!” canda Cecep.

“Haaaa bercanda kamu!” kata Sato sambil tertawa.

“Stttttt...!”

Akhirnya kata itu keluar dari mulut Cecep. Mereka tak menghiraukan peringatan itu.Dan Sato terus ngoceh ketika Cecep menengok.

Mereka melangkahkan kaki dengan penuh was-was yang menyelimuti hati pergi dari rumah Pak Heru. Pelan tapi pasti mereka terus melanjutkan jejak kaki meski ada perasaan takut.Suara jangkrik yang bersenandung di depan,belakang, kanan,kiri membuat mereka bertambah khawatir.

“Itu suara apa, Cep!”

“Itu kan hanya jangkrik.”

“Tapi di mana sih pohon beringin itu Cep?”

“Halah jangan ditakutkan dia kan nggak bisa makan kita!”

Prok,prok,prok suara sandal mereka berdua sangat terdengar jelas pada malam yang kebetulan malam Jumat disertai hujan gerimis yang membasahi sekujur tubuh mereka. Dan pucuk-pucuk daun beringin itu makin terlihat jelas. Badan kami merinding menggigil seperti kedinginan dan rasanya seperti di kuburan.

“Tu, itu pohon beringin terlihat menyeramkan,” kata Sato khawatir.

“Tenang saja ada aku nih!” kata Cecep seperti berjiwa patriotik.

“Kamu bisa baca ayat kursi kan?”

“Nggak perlu baca yang gitu-gituan!”

“Ah, aku aaja yang lah yang baca ayat al quran!”

“Terserah kamu ajalah!”

Sato membaca ayat alqur’an dengan merundukkan kepalanya berjalan di belakang Cecep.Sebelum sampai di pohon beringin Sato kembali ngewel minta diajak kencing padahal hanya beberapa meter saja dari pohon beringin itu

“Aduh sudah nggak kuat nih pingin keluar!”

“Ditahan dulu sampai di rumah saja!”

“Lihat ada bayangan apa itu!” katanya sambil menunjuk bayangan putih.

“Kamu salah lihat kali aku nggak percaya sama setan!”

Tepat di depan pohon beringin terlihat bayang–bayang putih,rambutnya panjang,dan melayang.Daun pohon beringin berayun-ayun dan mengeluarkan suara gaduh,bising.Mereka hanya diam tanpa suara yang keluar dari mulut keduanya.

“Ada kuntilak terbang tuh!” kata Sato.

“Kamu mungkin hanya berhalusinasi saja!” kata Cecep.

“Nggak, coba lihat ke atas pohon itu!”

“Wahhhh apaan putih-putih itu!” katanya kaget.

“Kamu percaya kan!”

“Iy.Iy.Iy....iya!” kata Cecep gugup.

“Aku punya jurus canggih,” kata Sato.

“Jurus apa?”

“1,2,3 la,la,la...lariiiiiiii.....” kata Sato sambil membiarkan Cecep di pohon beringin itu

“Jangan, tunggu aku dong!”

“Emang kenapa?” kata Sato sambil berhenti sejenak.

“Kakiku terjebak di lumpur!”

Tiba-tiba kaki Cecep tak bisa digerakkan

“Ah, aku takut setan!” kata Sato terus melangkahkan kaki.

Sejenak Sato terdiam dari ceritanya lupa setelah itu apa yang terjadi

“Hey,hey setelah itu apa?” kata Siska penasaran.

“Sebentar aku lupa nih!” kata Sato sambil berpikir-pikir.

“Masa baru tadi malam lupa!”

“Iyalah karena tadi malam seram banget!”

“Oh, iya aku ingat”

Sato dengan mulut bak-blakan bercerita peristiwa itu lagi tanpa mengkhawatirkan keadaan Cecep yang masih trauma.

Tiba-tiba kuntilanak ada di depan cecep.Cecep sangat kaget terdengar minta tolong sangat keras

“Tolonggggg” kata Cecep menjerit-jerit.

“Kenapa tuh?” batin Sato ketika mendengar suara itu.

Sato mendengar jeritan itu dan kembali menuju pohon beringin itu.Dia melihat Cecep sudah terbaring tak berdaya dengan mata terpejam. Dia was-was dengan keadaan Cecep dan takut bila setan itu kembali lagi.

“Cep,Cecep kamu nggak apa-apa, Cep!” kata Sato berusaha menyadarkan Cecep sambil melihat kanan kiri.

Cecep masih tak berdaya Sato memutuskan mombopong badan temannya yang cungkring itu dengan hati-hati. Ketika itu hujan mulai turun lebat.Selang waktu berjalan dia akhirnya Cecep sadar dari pingsannya.

“Kenapa kamu menggendong aku!”kata Cecep.

“Kamu itu pingsan tadi!”

“Turunkan aku!”

“Kamu melihat apa tadi?”

“Nggak tahu tadi aku melihat wajah cantik,rambutnya lurus tapi matanya berwarna merah.”

“Kamu bisa jalan sendiri, kan?”

“Aduh pusing kepalaku!”

Malam itu mungkin malam tersial untuk mereka, pelan-pelan Sato memapah Cecep di atas pundaknya hingga di depan rumah Cecep.Tepat waktu itu hujan mulai reda dan kulihat jam didepan menunjuk waktu di angka 1.13 ternyata orang tua Cecep masih duduk di dalam rumah sambil menunggu kedatangan Cecep

Assalamuallaikum”salam Sato sambil membaringkan badan Cecep di kursi teras

Waalaikum salam,”jawab orang tua Cecep.

“Wah kenapa Cecep, Nak?”

“Dia tadi pingsan!”

Sato masuk ke dalam dan menceritakan panjang lebar tentang awal kejadian itu hingga dia membawa Cecep dalam keadaan tak berdaya hingga waktu menunjuk pukul tiga pagi dan Sato pamit pulang karena hari sudah pagi dan besok harus masuk sekolah.

* * *

“O gitu tho kejadiannya seru, ya!”ujar Siska.

Teetttttttt...bel sekolah menjeritkan suaranya dan terlihat Bu Ani ke luar dari ruang guru

Dan menuju ke ruangan kita

“Ayo kita masuk kelas!” kata Siska!

“Ayo Cep jadikanlah pelajaran hidupmu!” kata Sato.

Cecep tak menjawab, tetapi langsung berdiri dari kursi di teras kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasa.

Thursday, 8 April 2010

BAYANGAN TAK TERLUPAKAN



Bayang-bayang kuntilanak pada tadi malam benar-benar membuat cecep anak SMP kelas 9 ini shock berat pasalnya dia hari ini berangkat sekolah dengan wajah merah pucat,kelopak matanya menyempit,dan sesekali dia memandang kedepan dengan pandangan kosong.Sedang Sato teman satu kelas cecep mencoba menghiburnya siska teman wanita cecep ikut bergabung .Sambil menunggu bel berbunyi dari teras kelas mereka bercakap-cakap meski cecep tak conect untuk bicara.
“Lupakanlah cep jadikan itu pengalaman”kata aku
Cecep bengong, diam tanpa kata seolah dia tak mendengar pembicaraan temannya
“Hei kamu nggak apa-apa” Seto menyadarkan bengong cecep
Untuk kedua kalinya dia tidak menjawab pertanyaan itu
“Pull”Panggilan Seto “Emang ada apa sih dengan si cecep”tanya siska
“Ah mau tahu aja urusan laki-laki”ejek Seto
Dalam keramaian pembicaraan itu, lagi dan lagi cecep tak merespon sepatah katapun hanya mengangguk dan hanya mengisyaratkan tubuhnya agar aku tidak bercerita kejadian tadi malam
“Teman kamu tuh sejak tadi berangkat bengong aja”penasaran
“Mungkin diputusin pacar kali”Seto berbohong
“Nggak mungkin, kamu bohong kan”
“kok bisa tahu “
“Ya iyalah, boro-boro pacaran ketemu wanita aja malu-malu kok”
“Kalau aku cerita ama kamu dia marah nggak ya”bicara pelan-pelan
“Aku jamin pasti tidak”
Setopun bergeser ke kiri menjauh dari Cecep,Cecep hanya menengok kearah siska dengan wajah pasrah persis orang gila.Dan Cecep menjadi pembicaran teman-teman karena nggak biasa Cecep yang selalu periang itu berubah drastis seperti orang stress.Sato pelan-pelan menceritakan kejadian tadi malam pada Siska.
Pada tadi malam kita berjalan-jalan ke rumah Pak Heru guru pembimbing untuk meminta saran untuk ujian nasional kami bicara-bicara tentang persiapan ujian nasional kita hingga larut malam tepatnya pukul 24:00 dan karena sudah malam kita berdua pulang kerumah tapi sebelum keluar rumah kita di beri pesan”.cerita Sato panjang lebar
“Awas ya di jalan bacalah ayat alqur’an”nasehati Pak heru
“Ada apa pak”penasaran Sato
“Ada pohon beringin katanya ada setannya”serius Pak Heru
“Ah bapak jangan nakut-nakutin kita dong”wajah pucat
“Bapak juga nggak tahu benar atau tidak”
“Kalau aku bertemu setan akan kun tonjok dia”canda Cecep
“Haaaa bercanda kamu”tertawa Sato

“Stttttt”akhirnya kata itu keluar dari mulut Cecep mereka tak menghiraukan peringatan itu.Dan Sato terus ngoceh ketika Cecep menengok

Mereka melangkahkan kaki dengan penuh was-was yang menyelimuti hati pergi dari rumah Pak Heru pelan tapi pasti mereka terus melanjutkan jejak kaki meski ada perasaan takut.Suara jangkrik yang bersenandung didepan,belakang ,kanan,kiri membuat mereka bertambah khawatir
“Itu suara apa Cep”takut
“Itu kan hanya jangkrik”mengejek
“Tapi dimana sih pohon beringin itu Cep”
“Halah jangan di takutkan dia kan nggak bisa makan kita”
Prok,prok,prok suara sandal mereka berdua sangat terdengar jelas pada malam yang kebetulan malam jum’at disertai hujan gerimis yang membasahi sekujur tubuh mereka dan seperti pucuk daun pohon beringin itu semakin terlihat jelas badan kami merinding menggigil seperti kedinginan dan rasanya seperti di kuburan.
“Tu,tu pohon beringin terlihat menyeramkan”Khawatir Sato
“Tenang aja ada aku nih”berjiwa patriotik
“Kamu bisa baca ayat kursi kan”
“Nggak perlu baca yang gitu-gituan”
“Ah aku aja yang lah yang baca ayat alqur’an”
“Terserah kamu ajalah”
Sato membaca ayat alqur’an dengan merundukkan kepalanya berjalan di belakang Cecep.Sebelum sampai di pohon beringin Sato kembali ngewel minta diajak kencing padahal hanya beberapa meter saja dari pohon beringin itu
“Aduh sudah nggak kuat nih pingin keluar”
“di tahan dulu sampai di rumah saja”
“Lihat ada bayangan apa itu”menunjuk bayangan putih
“kamu salah lihat kali aku nggak percaya sama setan”
Tepat di depan pohon beringin terlihat bayang –bayang putih,rambut panjang,dan melayang.Daun pohon beringin berayun-ayun dan mengeluarkan suara gaduh,bising.Mereka hanya diam tanpa suara yang keluar dari mulut keduanya.
“Ada kuntilak terbang tu”Sato
“Kamu mungkin hanya halusinasi ”Cecep
“Nggak, coba lihat keatas pohon itu”
“Wahhhh apaan putih-putih itu”kaget
“Kamu percaya kan”
“Iy.Iy.Iy....iya”sulit berbicara
“Aku punya jurus canggih ”Sato
“Jurus apa?”
“1,2,3 la,la,la...lariiiiiiii”membiarkan Cecep dipohon beringin itu
“Jangan, tunggu aku dong”
“Emang kenapa”berhenti sejenak
“Kakiku terjebak dilumpur”tiba-tiba kakinya tak bisa digerakkan
“Ah aku takut setan”terus melangkahkan kaki

Sejenak Sato terdiam dari ceritanya lupa setelah itu apa yang terjadi
“hey,hey setelah itu apa” Siska penasaran
“Sebentar aku lupa nih”pikir-pikir
“Masa baru tadi malam lupa”
“Iyalah karena tadi malam seram banget”
“Oh iya aku ingat”

Seto dengan mulut bak-blakan cerita peristiwa itu lagi tanpa mengkhawatirkan keadaan Cecep yang masih trauma

Tiba-tiba kuntilanak ada didepan cecep.dia sangat kaget terdengar minta tolong sangat keras
“Tolonggggg”menjerit
“Kenapa tuh”dari jauh mendengar
Sato mendengar jeritan itu dan kembali menuju pohon beringin itu.Dia melihat Cecep sudah terbaring tak berdaya dengan mata terpejam dia was-was dengan keadaan Cecep dan takut bila setan itu kembali lagi
“Cep,Cep kamu nggak apa-apa Cep”menyadarkan sambil melihat kanan kiri
Cecep masih tak berdaya Sato memutuskan mombopong badannya yang cungkring itu dengan hati-hati ketika itu hujan mulai turun lebat.selang waktu berjalan dia akhirnya sadar dari pingsannya
“Kenapa kamu menggendong aku”lupa kejadian itu
“Kamu itu pingsan tadi”
“Turunkan aku”
“Kamu melihat apa tadi”
“Nggak tahu tadi aku melihat wajah cantik,rambutnya lurus tapi matanya berwarna merah”
“Kamu bisa jalan sendiri kan”
“Aduh pusing kepalaku”
Malam itu mungkin malam tersial untuk mereka, pelan-pelan Sato menuntun Cecep diatas pundaknya hingga di depan rumah Cecep.Tepat waktu itu hujan mulai reda dan kulihat jam didepan menunjuk waktu di angka 1:13 ternyata orang tua Cecep masih duduk didalam rumah sambil menunggu kedatangan Cecep
“Tok,tok Assalamuallaikum”salam Sato membaringkan badan Cecep dikursi teras
“Wa’alaikum salam”jawab orang tua Cecep
“Wah kenapa Cecep nak”
“Dia tadi pingsan”
Sato masuk kedalam dan menceritakan panjang lebar tentang awal kejadian itu hingga dia membawa Cecep dalam keadaan tak berdaya hingga waktu menunjuk pukul 3:00 dan Sato pamit pulang karena hari sudah pagi dan besok harus masuk sekolah.

“O gitu tho kejadiannya”
Teetttttttt...bel sekolah menjeritkan suaranya dan terlihat Bu Ani keluar dari ruang guru
Dan menuju ke ruangan kita
“Ayo kita masuk kelas”Siska
“Ayo Cep”Sato
Tak menjawab sambil berdiri dari kursi diteras kelas dan memulai pelajaran seperti biasa.



Thursday, 18 March 2010

WASIAT TERAKHIR
Oleh:Nur Rohmad

Tak kurasa hari demi hari yang kulalui begitu cepat berlalu tanpa ku ketahui hal-hal positif apa yang telah kulakukan untuk diri dan keluargaku.Akulah hanya seorang siswa kelas XII MAN 1 Surakarta yang hidup seadanya bersama kakek tercintaku pak Samidi yang sering ku panggil opa.hidup didesa kecil yang kumuh desa Putat. Sedang kedua kakakku merantau pergi dari desa kelahiran yang amat tercinta.Penderitaan hidupku semakin bertambah yang sangat sering ngelamun sendiri,belajar nggak konsen dan marah-marah sama orang tanpa ada sebab.Aku yang telah di tinggal kedua orangtuaku ke Arab Saudi sejak aku masih kelas 3 sd.Akupun harus merelakan keduanya di panggil oleh pencipta alam.ketika mereka mengalami sebuah insiden kecelakaan pesawat terbang sepekan yang lalu.demi menengok diriku karena telah 15 tahun tak pernah bertemu.Padahal aku sangat kangen dengan sosok keduanya.Mereka sangat sayang pada diriku aku teringat wajah ibu dengan tahi lalat yang ada diatas mata .Ayahku berkumis tebal yang sering memanja diriku.Aku kesepian dalam menjalani kehidupan yang kejam ini bersama kakek dari ayahku.

“Kek dulu sebelum ayah pergi adakah kejadian yang aneh saat itu tidak”tanya aku
“Dulu sebelum orangtuamu pergi seperti ada yang aneh pada perasaan kakek tapi kakek lupa”
“Coba kakek ingat-ingat lagi aku sangat penasaran kenapa aku begitu cepat di tinggal orangtuaku?
“Oh ya kakek baru ingat pada malam sebelum ibu dan ayahmu meninggal kakek bermimpi seisi rumah ini menangis tapi tidak tahu apa sebabnya”
“Tapi adakah pesan untuk kami kek”tanya aku
“Tidak ada”sedikit ragu-ragu dan merahasiakan sesuatu
“Terima kasih ya kek”
“Terima kasih untuk apa”
“Terima kasih atas jasa kakek yang telah merawat aku hingga besar”terisak-isak sambil meneteskan air mata
“Ya memang ini sudah kewajiban kakek”

Hari ini tepat tiga puluh hari kematian orang tuaku.Kakakku pertama Seno dan kakak keduaku Andre pulang ke rumah untuk mengunjungi makam ayah dan ibuku yang ada di desa.Awalnya mereka terlihat sangat akur membacakan surat yasin dengan sangat khusyu’setiba dirumah yang berawal dari omongan biasa berubah menjadi percekcokan yang dahsyat ketika masalah warisan orang tuaku .Dan setiap pembicaraan hanyalah warisan dan warisan yang menjadi masalah utama.Kakakku Seno ingin dapat bagian yang banyak begitu juga Kak Andre sama juga .
“Semua warisan harus di berikan padaku”kak seno
“Nggak bisa aku yang paling banyak “sela kak Andre
“Udah-sudah kita jangan ngomongin ini dulu”
“Ah kamu anak kecil tau apa”Kak Andre membentak
“Ya betul adikmu orang tua kalian meninggal malahan kalian rebutan warisan”sela kakek
“Tapi kek kenapa ibu tak membagi warisan pada kami”Kak Seno menyangkal
“Kita serahkan aja ke pak RT aja kan bisa adil”
“Nggak bisa pokoknya aku dapat rumah,sawah dan mobil.Kamu hanya dapat uang 15 juta”serakah kak seno
“Enak aja lho emang aku anak kecil”jawab Kak Andre tak mau kalah
“Terserah kalian”jengkel dan keluar dari rumah

Haripun sudah mulai larut malam dengan rembulan diatas awan hitam.Menunjukkan jam 24:00 tepat perdebatan malam ini tak kunjung usai.Aku malas mendengar mereka lalu bergegas menuju kamar tidurku dan ku rebahkan diatas kasur sambil melihat bintang bersinar di sela-sela genting kamar tidurku.Tapi masih ku dengar sesekali bentakan dari kak Seno.Tanpa ku hiraukan keduanya akupun tidur.

Sinar menyinari dari sela dinding kamarku dan angin berhembus kencang dari bawah.
Hari ini bertepatan empat puluh hari kematian kedua orangtuaku.Dan rencananya kami ingin menziarahi makam orang tuaku sembari berdo’a semoga mereka bahagia di surga.Dan kulihat kakakku duduk berjauhan dari kami orang yang ziarah saling bicara membicarakan kami.Mungkin mereka sudah tahu apa yang terjadi di dalam kehidupan berumah tangga

“Emang dulu orang tuanya kenapa ya”gunjing mereka
“mungkin banyak dosa”
“Kalian jangan menggunjing orang tuaku”membentak aku
Disaat kan pulang dri makam ayah tiba-tiba Kak seno dan Kak Andre berdebat lagi
“Urusan kita belum selesai”Kak Seno
“Urusan apa warisan,oke kalo gitu kamu mau apa?Kak Andre
“Aku mau kita gelut, yang menang dapat warisan lebih banyak”
“Ayo tapi jangan disini,kita disawah saja”
Kecemasanku semakin menambah akankah keluarga ini akan terpecah belah,dan kucoba melerai keduanya tapi tak berhasil.Dan tibalah keduanya di sawah diikuti para tetangga yang ikut ziarah.
“Ayo sekarang mau apa”sambil menodongkan pisau
“Ayo kita mulai perang ini”membawa golok
“Kena lho,mati lho ayo siapa yang menang”memajukan pisau dan mengenai pelipis kak Andre
“Yaaaaa”menjatuhkan golok ke muka kak seno
Dan akupun melerai berdua agar pertarungan ini tidak terjadi kembali,aku tepat diantara keduanya
“Kupukul lho pakai tanganku”dan pukulan itu mengenai wajahku hingga memerah dan perkelahian itu akhirnya berhenti dan mereka pun kabur dan lari dari sawah.

Malam sudah tiba.Warga beramai-ramai datang kerumah kami.Di rumah diadakan slametan untuk kedua orang tuaku dan kakakku duduk bersebelahan dengan kaki di tekuk mereka membaca do’a demi almarhum orang tuaku.Hatiku pun sedikit tentram mengelus dadaku kupikir masalah akan selesai.Tapi kenyataannya setelah pembacaan yasin selesai mereka bertindak aneh dan saling berdiam malahan malam ini pertikaian semakin menjadi jadi
“Kalau kamu nggak nurut sama aku kamu minggat dari rumah”
“Nggak bisa kamu yang minggat saja”
“Sudah,sudah kalian bisa diam tidak?”marah kakek

Dan bentakkan itulah yang menjadikan suasana rumah sepi dan sunyi.Semua terdiam seperti batu begitu juga aku.Tanpa sepatah katapun dari mulut yang keluar

“Kalian itu sudah besar sudah mengerti mana yang baik dan buruk”nasehati kakek
“Tenang kek,tenang”bujuk aku
“Kalau kalian terus begini mendingan kalian pergi dari rumah”marah
“Aku tidak mau”kak seno dan andre
“Kalau gitu masalah ini di bawa ke Ustadz ahmad”

Pada malam ini semuanya saling berbaikan dan setuju keputusan kakek.mereka berangkulan selayaknya adik kakak.Sebelum tidur kakek berpesan agar di dunia ini harus hati-hati terhadap permusuhan dan kakek menyampaikan wasiat dari kedua orang tuaku

“Sebenarnya dulu sebelum pergi ke Arab Saudi orang tuamu berpesan padaku”kakek
“Dulu kakek kenapa tidak jujur padaku”
“Aku tidak menyusahkan kaliuan dulu ketika itu”
“Terus apa pesan itu kek”
“Kalian harus mencari ilmu agama”jawab kakek
“Tapi dimana kek”
“Dipondok Al-Islamiyah di Jawa Timur pesantren pak Ustadz habibie”

Saat itu pula kami menundukkan kepala, kak seno sudah berkeluarga diapun tidak bisa begitu pula Kak Andre juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.Dan pilihan terakhir adalah aku.Aku pun mau melaksanakan wasiat itu meskipun aku belum begitu mengenal agama islam begitu mendetail.Tapi demi wasiat orang tuaku aku harus melaksanakan itu.

Hari empat puluh satu hari kematian orang tuaku.Kulaksanakan wasiat orang tuaku meskipun terik matahari menyengat tubuhku.Aku siap-siap merapikan barang yang harus kubawa dan tepat pukul 10:59 aku bergegas dari rumah dan merantau demi pencarian ilmu, yang harus meninggalkan sekolah,kampong halaman ku.Tutttttt…bel berbunyi dari depan rumah terlihat bus mini warna biru tua yang terparkir di rumah ternyata kakek telah menyiapkan mobil untukku.
“Selamat jalan cucuku semoga selamat sampai tujuan” nasehat kakek
“Iya kek semoga dapat ilmu yang bermanfaat”jawab aku sambil ku rangkul kakekku erat
Perlahan ku masuk ke dalam bus mini itu sembari menengok ke belakang.Dan aku meneteskan air mata yang tidak dapat tertahan di mataku.”hati-hatinya disana”nasehati kak seno dan kak andre

Satu bulan berlalu aku tidak kerasan dengan keadaan di pesantren harus makan apa-adanya dan ketika aku mau pulang Uztadz habibie memberi saran padaku supaya tetap melaksanakan wasiat orang tuaku.Dan aku pun tidak jadi meninggalkan pondok.

Satu tahun telah kulalui di jawa timur akupun mulai mengerti mengaji dan membaca al qur’an walaupun awalnya aku tidak mengerti agama sesekali aku mengabarkan keadaan diriku pada kakek dan kakakku aku mulai memperdalam pencarian agama hingga benar-benar hafal alqur’an.Baru setelah aku belajar selama 9 tahun aku merasa sudah mendalami agama islam.Aku sangat kangen dan aku mulai meninggalkan pondok Al-Islamiyah untuk pulang ke desa tercinta.Untuk belajar dirumah sambil mengajar di sekolah madrasah. Aku mulai bahagia hidup bersama kakekku apalagi dapat melaksanakan wasiat orang yang sangat ku cintai dan ku coba menghilangkan kenangan masa lampau hidup tanpa orang tua sebagai anak yatim piatu dan memulai hidup baru mulai dari nol.

Saturday, 13 March 2010

WASIAT TERAKHIR

Oleh:Nur Rohmad


Tak kurasa hari demi hari yang kulalui begitu cepat berlalu tanpa ku ketahui hal-hal positif apa yang telah kulakukan untuk diri dan keluargaku.Akulah hanya seorang siswa kelas XII MAN 1 Surakarta yang hidup seadanya bersama kakek tercintaku pak Samidi yang sering ku panggil opa.hidup didesa kecil yang kumuh desa Putat. Sedang kedua kakakku merantau pergi dari desa kelahiran yang amat tercinta.Penderitaan hidupku semakin bertambah yang sangat sering ngelamun sendiri,belajar nggak konsen dan marah-marah sama orang tanpa ada sebab.Aku yang telah di tinggal kedua orangtuaku ke Arab Saudi sejak aku masih kelas 3 sd.Akupun harus merelakan keduanya di panggil oleh pencipta alam.ketika mereka mengalami sebuah insiden kecelakaan pesawat terbang sepekan yang lalu.demi menengok diriku karena telah 15 tahun tak pernah bertemu.Padahal aku sangat kangen dengan sosok keduanya.Mereka sangat sayang pada diriku aku teringat wajah ibu dengan tahi lalat yang ada diatas mata .Ayahku berkumis tebal yang sering memanja diriku.Aku kesepian dalam menjalani kehidupan yang kejam ini bersama kakek dari ayahku.


Hari ini tepat tiga puluh hari kematian orang tuaku.Kakakku pertama Seno dan kakak keduaku Andre pulang ke rumah untuk mengunjungi makam ayah dan ibuku yang ada di desa.Awalnya mereka terlihat sangat akur membacakan surat yasin dengan sangat khusyu’setiba dirumah yang berawal dari omongan biasa berubah menjadi percekcokan yang dahsyat ketika masalah warisan orang tuaku .Dan setiap pembicaraan hanyalah warisan dan warisan yang menjadi masalah utama.Kakakku Seno ingin dapat bagian yang banyak begitu juga Kak Andre sama juga.


“Semua warisan harus di berikan padaku”kak seno

“nggak bisa aku yang paling banyak “sela kak Andre

“Udah-sudah kita jangan ngomongin ini dulu”

“Ah kamu anak kecil tau apa”Kak Andre membentak

“Ya betul adikmu orang tua kalian meninggal malahan kalian rebutan warisan”sela kakek

“Tapi kek kenapa ibu tak membagi warisan pada kami”Kak Seno menyangkal

“kita serahkan aja k eke pak RT aja kan bisa adil”

“Nggak bisa pokoknya aku yang paling besar”

“Terserah kalian”jengkel.


Haripun sudah mulai larut malam dengan rembulan diatas awan hitam.Menunjukkan jam 24:00 tepat perdebatan malam ini tak kunjung usai.Aku malas mendengar mereka lalu bergegas menuju kamar tidurku dan ku rebahkan diatas kasur sambil melihat bintang bersinar di sela-sela genting kamar tidurku.Tapi masih ku dengar sesekali bentakan dari kak Seno.Tanpa ku hiraukan keduanya akupun tidur.


Sinar menyinari dari sela dinding kamarku dan angin berhembus kencang dari bawah.

Hari ini bertepatan empat puluh hari kematian kedua orangtuaku.Dan rencananya kami ingin menziarahi makam orang tuaku sembari berdo’a semoga mereka bahagia di surga.Dan kulihat kakakku duduk berjauhan dari kami orang yang ziarah saling bicara membicarakan kami.Mungkin mereka sudah tahu apa yang terjadi di dalam kehidupan berumah tangga.

“Emang dulu orang tuanya kenapa ya”gunjing mereka

“mungkin banyak dosa”

“Kalian jangan menggunjing orang tuaku”membentak aku.


Malam sudah tiba.Warga beramai-ramai datang kerumah kami.Di rumah diadakan slametan untuk kedua orang tuaku dan kakakku duduk bersebelahan dengan kaki di tekuk mereka membaca do’a demi almarhum orang tuaku.Hatiku pun sedikit tentram mengelus dadaku kupikir masalah akan selesai.Tapi kenyataannya setelah pembacaan yasin selesai mereka bertindak aneh dan saling berdiam malahan malam ini pertikaian semakin menjadi jadi.

“Kalau kamu nggak nurut sama aku kamu minggat dari rumah”

“Nggak bisa kamu yang minggat saja”

“Sudah kalian itu sudah besar”marah nenek

Dan bentakkan itulah yang menjadikan suasana rumah sepi dan sunyi.Semua terdiam seperti batu begitu juga aku.Tanpa sepatah katapun dari mulut yang keluar

“Kalian itu sudah besar sudah mengerti mana yang baik dan buruk”nasehati kakek

“Tenang kek,tenang”bujuk aku

“Kalau kalian terus begini mendingan kalian pergi dari rumah”marah

“Aku tidak mau”kak seno dan andre

“Kalau gitu masalah ini di bawa ke Ustadz ahmad”

Pada malam ini semuanya saling berbaikan dan setuju keputusan kakek.mereka berangkulan selayaknya adik kakak.Sebelum tidur kakek berpesan agar di dunia ini harus hati-hati terhadap permusuhan dan kakek menyampaikan wasiat dari kedua orang tuaku.

“Sebenarnya dulu sebelum pergi ke Arab Saudi orang tuamu berpesan padaku”kakek

“apa itu kek”

“Kalian harus mencari ilmu agama”jawab kakek

Saat itu pula kami menundukkan kepala, kak seno sudah berkeluarga diapun tidak bisa begitu pula Kak Andre juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.Dan pilihan terakhir adalah aku.Aku pun mau melaksanakan wasiat itu meskipun aku belum begitu mengenal agama islam begitu mendetail.Tapi demi wasiat orang tuaku aku harus melaksanakan itu.


Hari empat puluh satu hari kematian orang tuaku.Kulaksanakan wasiat orang tuaku meskipun terik matahari menyengat tubuhku.Aku siap-siap merapikan barang yang harus kubawa dan tepat pukul 10:59 aku bergegas dari rumah dan merantau demi pencarian ilmu, yang harus meninggalkan sekolah,kampong halaman ku.Tutttttt…bel berbunyi dari depan rumah terlihat bus mini warna biru tua yang terparkir di rumah ternyata kakek telah menyiapkan mobil untukku.

“Selamat jalan cucuku semoga selamat sampai tujuan” nasehat kakek

“Iya kek semoga dapat ilmu yang bermanfaat”jawab aku sambil ku rangkul kakekku erat

Perlahan ku masuk ke dalam bus mini itu sembari menengok ke belakang.Dan aku meneteskan air mata yang tidak dapat tertahan di mataku.”hati-hatinya disana”nasehati kak seno dan kak andre

Satu tahun aku pergi ke jawa timur akupun mulai mengerti mengaji dan membaca al qur’an walaupun awalnya aku tidak mengerti agama sesekali aku mengabarkan keadaan diriku pada kakek dan kakakku aku mulai memperdalam pencarian agama hingga benar-benar hafal alqur’an. islam baru setelah aku belajar selama 9 tahun aku merasa sangat kangen dan aku mulai meninggalkan pondok Al-Islamiyah untuk pulang ke desa tercinta Aku mulai bahagia hidup bersama kakekku serta dapat melaksanakan wasiat orang yang sangat ku cintai dan ku coba menghilangkan kenangan masa lampau hidup tanpa orang tua sebagai anak yatim piatu dan memulai hidup baru mulai dari nol.

Saturday, 27 February 2010

KETIDAKTAATAN

TEKAD MEMBUAT MAKSIAT(revisi)
OLEH:NUR ROHMAD
Sore menampakan mega merahnya inilah saatnya aku harus pergi dari rumah. Aku yang duduk di kelas 9 MTs N jeketro ada janji akan pergi kesungai bersama temanku. Aku keluar dari rumah tapi malang nasibku hari ini orang tuaku marah padaku saat tadi pagi aku bermalasan di rumah hingga aku tidak boleh pergi sebelum aku membantu orang tua.
“Bu aku mau pergi boleh tidak”izin aku

“Hari ini kamu sudah ngerjain apa”ayah

“Birkan dia bermain yah kan dia sudah besar”rayu ibu

“”Tapi seharian ini dia belum bekerja apapun bu”

“Iya bapak aku bermain sebentar kok”

“Kalau kamu mau bermain kamu harus bersihkan rumah dulu”ayah bertanya

“Baiklah pak”pasrah
Dan sebelum ku selesaikan pekerjaan itu aku melihat ibu tidur ayah pergi ke ladang.Mulailah aku mencuri kesempatan untuk pergi dari rumah.Aku sampai diteras rumah dsan lari kencang agar tidak diketahui orang tuaku.
Ku tengok kanan kiri dan kulihat dari jauh temanku belum terlihat dari tempat yang aku tunggu kuputuskan beranjak dari tempat itu dan dan kali ini aku pergi ke lapangan sepakbola dan terlihat semua teman-tamanku ada disitu sedang bermain sepakbola ria .Akupun melambaikan tanganku kepada mereka.Aku sering manggil temanku dengan sebutan dut karena badannya yang gendut,wajahnya yang bulat,dan cara jalannya yang sedikit membungkuk.“Woeee,Dut jadi nggak kita pergi ke sungai”teriak aku dari luar lapangan“Hoi mad jadi sekarang nih kita pergi ke sungai ““Nggak minggu depan”jawab aku kesal sambil bercandaDutpun bergegas keluar dari lapangan sepakbola bersama teman-teman yang lain“Emang ini jam berapa mad”“Inikan sudah jam 4 sore aku tadi kabur dari rumah”“Kalau gitu ayo pergi ke sungai biar orang tuamu nggak tahu kita ”Akupun pergi dari tempat lapangan sepakbola dan menuju kesungai dan terlihatlah teman-teman yang lain dari arah berlawanan dan aku menuggu di tempat pohon beringin yang penuh angin berhembus“Guys.tunggu aku”suruh mereka dari jauh sambil memegang kail ikan“Ayo cepat aku tinggal nih ini sudah sore”jawab akumerekapun tiba didepanku dan terlihat sosok yang asing saat mereka berada tepat di depanku dengan rambut keriting.wajah pas-pasan dan tanpa ekspresi alias pucat.Akupun kaget ternyata itu adalah adikku sendiri akupun tidak ingin dia kenapa-napa dan aku suruh dia pulang kerumah dan duduk manis saja di rumah.“Dik cepat pulang sana nanti kalau kamu ikut kakak bisa tenggelam lho,nanti dicari ibu ?“tapi kak aku kan juga mau ikut mencari ikan”ngeyel“Ah kamu itu masih kecil nggak boleh sama orang dewasa”sambil membentak

“Kalau kakak nggak izinin aku, nanti kakak aku beritahu ayah lho.mengancam

“Pulang sana”aku membentakAku dan teman-temanku pergi dari tempat tongkrongan sambil membawa kail ikan untuk memancing karena temanku sudah kelihatan semua.Tanpa sadar sambil bicara kami telah sampai di sungai Mekong dan terlihat sungai diseberang airnya meluap hingga ke persawahan warga tapi akupun tidak menghiraukan hal itu.Dan terus saja melanjutkan memancing dan memilih tempat yang nyaman dari sungai sambil duduk dibawah pohon pisang.Aku mulai memasukkan kail ikan ke sungai dengan perlahan tapi pasti meskipun hari ini hari yang tidak bersahabat dengan kita.Hari semakin menunjukkan kegelapannya hujanpun turun dari langit dengan sangat derasnya tanpa perdulikan diri.cuk,cuk,cuk suara rintihan hujan membasahi seluruh tubuhku dan kailku pun bergerak kedepan belakang.“wah kailku bergerak pasti ada yang nyangkut nih”“ah paling ikan sepat”tak percaya“Enakaja lho pasti ni ikan kocolan”ngeyel“coba angkat aku akan melihat apa sih yang kamu dapat biasanya kan kamu nggak pernah dapat ikan”“Ah kamu ngece ya hari ini pasti aku beruntung dapat ikan banyak”“Lihat nih” mengangkat kail ikan”mengangkat kail“Ha…ha..ha.. lihat thu kamu dapat kain ,kalo aku lihat nih aku dapat ikan banyak “mengejekakupun sambil menunggu kailku di seberang jalan aku ingin berenang di sungai sebelah yang airnya sangat deras sekali aku memberanikan mandi di sungai kan kelihatan seru.aku sudah melihat petani di rawa berbondong-bondong merapikan bawaan mereka dan satu persatu mulai meninggalkan sawah hingga sepi tiada orang yang terlihat pada sore ini kecuali kami“Hei kamu berani nggak masuk ke sungai ini”tanya den“Ya berani lah,ayo buka baju kita.jawab aku“Apa kamu mau telanjang ya “bercanda“ya nggaklah kita sebagai orang muslim harus menutup aurat kita “menasehati“wah sudah tobat tho”ngejek"berani nggak lho kalau kita balapan berenang"menantang"ya berani lah"jawab dut"tapi kita balapan sampai mana"tanya aku"sampai dibawah jembatan itu aja"selonong denakupun mulai nyemplung di sungai ditengah derasnya air sungai bersama teman-temanku.
“Wah ayo aku sudah mau nyampe ini”aku

“wah iya-iya”den
akupun merasa asyik saat aku sudah mau sampai di tempat finish saking asyiknya aku mulai kehilangan keseimbangan dan kakiku tersangkut pohon di bawah sungai.
“Wah kenapa kamu lambat”dut

“Nggak, hanya masalah kecil”jawab aku
Mereka terus meninggalkanku sampai ditempat finish dan aku masih berusaha malepaskan kain yang nyangkut dikakiku betapa malangnya diriku pohon tua yang ada diatasku tumbang dan mengenai badanku.”wahhh”teriak aku
aku pun sangat panik karena nggak biasanya begini akupun mulai kalang kabut“Tolong-tolong aku tenggelam nih”teriak akuakupun di tinggalkan mereka begitu saja mereka tidak mendengar jeritan kesakitanku aku terus berteriak sambil mencoba sekali-kali menampakkan ke permukaan saat itulah mereka menyadari kalau aku hilang dari belakang mereka "Ngomong ngomong mad tadi sampai mana ya"tanya dut"Wah iya jangan-jangan dia dimakan buaya"jawab den"Wah ngaco kamu emang ada sungai ada buayanya"jawab dut"Ayo kita kembali lagi"khawatirMereka berputar-putar mencariku kesana-kemari akhirnya
merekapun menemukanku lagi aku merasa sangat senang mereka muncul lagi akupun berteriak kembali "tolong"teriak aku"sabar aku akan datang"teriak diamerekapun menemukanku.aku terus digotong oleh mereka dalam keadaan lemas.saat sampai diatas aku mulai merasakan pusing kepala,tubuh tak bisa digerakkan seperti aku sedang tidak ada didunia akupun pinsang di tempat.aku di bawa pulang di rumah aku nggak tahu aku pinsan sampai jam berapa akupun bangun dari pinsanku seakan aku tidak ingat apa yang barusan terjadi.aku diceritakan teman-temanku secara panjang lebar akhirnya akupun lama-kelamaan ingat apa yang aku alami dan sejak itulah aku trauma akan kejadian itu.Dan pada hari ini juga aku dibawa kerumah sakit aku merasa alhamdulillah sakitku tak begitu parah.dan selang sore hari sakitku mulai reda."semoga kejadian hari ini ada hikmahnya"batin aku dalam hati

Thursday, 25 February 2010

TEKAT MEMBAWA PETAKA

OLEH:NUR ROHMAD
Sore menampakan mega merahnya inilah saatnya aku harus pergi dari rumah. Akupun beranjak dari teras rumah secara perlahan-lahan karena sore ini ada janji kalau hari akan pergi kesungai bersama temanku. Aku keluar dari rumah ku tengok kanan kiri dan kulihat dari jauh temanku belum terlihat dari tempat yang aku tunggu kuputuskan beranjak dari tempat itu dan menuju ketempat tongkrongan lain dan kali ini aku menuju ke tempat lapangan sepakbola dan terlihat semua teman-tamanku ada disitu dan sedang bermain sepakbola.akupun mengabaikan tanganku kepada mereka.aku sering manggil temanku dengan sebutan dut karena badannya yang gendut,wajahnya yang bulat,dan cara jalannya yang sedikit membungkuk.

“woeee,Dut jadi nggak kita pergi ke sungai”teriak aku dari luar lapangan

“hoi mad jadi sekarang nih kita pergi ke sungai “

“nggak minggu depan”jawab aku kesal sambil bercanda
Dutpun bergegas keluar dari lapangan sepakbola bersama teman-teman yang lain
“Emang ini jam berapa mad”

“Inikan sudah jam 4 sore”

“kalau gitu ayo cepat pergi ke sungai biar nanti dapat ikan banyak”
Akupun pergi dari tempat lapangan sepakbola dan menuju kesungai dan terlihatlah teman-teman yang lain dari arah berlawanan dan aku menuggu di tempat pohon beringi yan penuh angin berhembus

“Guys.tunggu aku”suruh mereka dari jauh sambil memegang kail ikan

“ayo cepat aku tinggal nih ini sudah sore”jawab aku
merekapun tiba didepanku dan terlihat sosok yang asing saat mereka berada tepat di depanku dengan rambut keriting.wajah pas-pasan dan tanpa ekspresi alias pucat.

Akupun kaget ternyata itu adalah adikku sendiri akupun tidak ingin dia kenapa-napa dan aku suruh dia pulang kerumah dan duduk manis saja di rumah.

“Dik cepat pulang sana nanti kalau kamu ikut kakak bisa tenggelam lho,nanti dicari ibu ?

“tapi kak aku kan juga mau ikut mencari ikan”ngeyel

“Ah kamu itu masih kecil nggak boleh sama orang dewasa”sambil membentak
Aku dan teman_temanku pergi dari tempat tongkrongan sambil membawa kail ikan untuk memancing karena temanku sudah kelihatan semua.Tanpa sadar sambil bicara kami telah sampai di sungai Mekong dan terlihat sungai diseberang airnya meluap hingga ke persawahan warga tapi akupun tidak menghiraukan hal itu.dan terus saja melanjutkan memancing dan memilih tempat yang nyaman dari sungai dan duduk dibawah pohon pisang.Aku mulai memasukkan kail ikan ke sungai dengan perlahan tapi pasti meskipun hari ini hari yang tidak bersahabat dengan kita.Hari semakin menunjukkan kegelapannya hujanpun turun dari langit dengan sangat derasnya tanpa perdulikan diri.cuk,cuk,cuk suara rintihan hujan membasahi seluru tubuhku dan kailku pun bergerak kedepan belakang.
“wah kailku bergerak pasti ada yang nyangkut nih”

“ah paling ikan sepat”tak percaya

“Enakaja lho pasti ni ikan kocolan”ngeyel

“coba angkat aku akan melihat apa sih yang kamu dapat biasanyua kan kamu nggak pernah dapat ikan”

“Ah kamu ngece ya hari ini pasti aku beruntung dapat ikan banyak”

“lihat nih” mengangkat kail ikan

“ha…ha..ha.. lihat thu apa yang kamu dapat,kalo aku lihat nih aku dapat ikan banyak “mengejek
akupun sambil menunggu kailku di seberang jalan aku ingin berenang di sungai sebelah yang sungainya sangat deras sekali dan aku memberanikan mandi di sungai kan kelihatan seru.aku sudah melihat petani di rawa berbondong-bondong merapikan bawaan mereka dan satu persatu mulai meninggalkan sawah hingga sepi tiada orang yang terlihat pada sore ini kecuali kami
“hei kamu berani nggak masuk ke sungai ini”Tanya den

“ya berani lah,ayo buka baju kita.jawab aku

“apa kamu mau telanjang ya “bercanda

“ya nggaklah kita sebagai orang muslim harus menutup aurat kita “menasehati

“wah sudah tobat tho”ngejek


"berani nggak lho kalau kita balapan berenang"menantang

"ya berani lah"jawab dut

"tapi kita balapan sampai mana"tanya aku

"sampai dibawah jembatan itu aja"selonong den
akupun mulai nyemplung di sungai ditengah derasnya air sungai bersama teman-temanku akupun merasa sangat asyik tapi saat aku pas ditengah sungai kakiku seperti tersangkut sepotong kain aku pun sangat panic karena nggak biasanya akupun mulai kalang kabut
“tolong-tolong kakiku ada yang narik nich”aku sambil tidak kuat”teriak aku
akupun di tinggalkan mereka begitu saja dan mereka tidak mendengar jeritan kesakitanku aku terus berteriak sambil mencoba sekali-kali menampakkan ke permukaan dan saat itulah mereka menyadari kalau aku hilang dari belakang mereka

"ngomong ngomong mad tadi sampai mana tadi"tanya dut

"wah iya jangan-jangan dia dimakan buaya"jawab den

"wah ngaco kamu emang ada sungai ada buayanya"jawab dut

"ayo kita kembali lagi"khawatir
akhirnya merekapun menemukanku lagi aku merasa sangat senang mereka muncul lagi akupun berteriak kembali "tolong"triak aku

"sabar aku akan datang"teriak dia

merekapun menemukanku.aku terus digotong oleh mereka dalam keadaan lemas.saat sampai diatas aku mulai merasakan pusing kepala,tubuh tak bisa digerakkan seperti aku sedang tidak ada didunia akupun pinsang di tempat.aku di bawa pulang di rumah aku nggak tahu aku pinsan sampai jam berapa akupun bangun dari pinsanku seakan aku tiadak ingat apa yang barusan terjadi.aku diceritakan teman-temanku secara panjang lebar akhirnya akupun lama-kelamaan ingat apa yang aku alami dan sejak itulah aku mungkin trauma akan kejadian itu.dan pada hari ini juga aku dibawa kerumah sakit dan aku merasa alhamdulillah sakitku tak begitu parah.dan selang sore hari sakitku mulai reda."semoga kejadian hari ini ada hikmahnya"batin aku dalam hati

PENTINGNYA PENDIDIKAN

Pendidikan saat ini adalah hal yang paling mutlak harus kita laksanakan terutama adalah wajib belajar 9 tahun selain sebagai untukmencari kebahagiaan dunia akhirat kita pendidikan juga sabgat penting

Monday, 11 January 2010

PENCARIAN



saya adalah seseorang yang terlahir disebuah desa terpencil yaitu desa putat nganten tepatnya di dusun nganten saya lahir anak yang kelima dari 5 bersaudara artinya saya adalah anak yang terakhir.hobi saya maendengarkan musik .dan sedang mencari sebuah arti kedewasaan karena selama ini aku merasa belum bersikap dewasa kpd setiap orang dan sering disebut oleh orang seseorang yang pendiam

Wellcome