Oleh Nur Rohmad
Bayang-bayang putih pada tadi malam benar-benar membuat Cecep, anak SMP kelas 9 ini shock berat. Akibatnya dia hari ini berangkat sekolah dengan wajah merah pucat,kelopak matanya menyempit,dan sesekali dia memandang ke depan dengan pandangan kosong.Sedang Sato teman satu kelas Cecep mencoba menghiburnya. Siska teman wanita cecep ikut bergabung.Sambil menunggu bel berbunyi dari teras kelas mereka bercakap-cakap meski Cecep tidak conect untuk bicara.
“Lupakanlah, Cep! Jadikan itu pengalaman!”kataku.
Cecep bengong, diam tanpa kata seolah dia tak mendengar pembicaraan temannya
“Hei kamu nggak apa-apa kan?” Sato menyadarkan bengong Cecep.
Untuk kedua kalinya dia tidak menjawab pertanyaan itu.
“Pull....!” panggilan Sato.
“Emang ada apa sih dengan si Cecep?”tanya Siska.
“Ah mau tahu aja urusan laki-laki,”ejek Sato.
Dalam keramaian pembicaraan itu, lagi dan lagi Cecep tak merespon sepatah kata pun hanya mengangguk dan hanya mengisyaratkan tubuhnya agar aku tidak bercerita kejadian tadi malam.
“Teman kamu tuh sejak tadi berangkat bengong aja!”
”Tanya saja sendiri!”
“Dia kan temanmu!”
“Emang kamu nggak?”
“Ayolah sama teman kan harus berbagi!”
“Okelah tapi dia marah nggak?” katanya pelan-pelan.
“Aku jamin pasti tidak!”
Sato pun bergeser ke kiri menjauh dari Cecep. Cecep hanya menengok ke arah Siska dengan wajah pasrah persis orang gila.Dan Cecep menjadi pembicaran teman-teman karena nggak biasa Cecep yang selalu periang itu berubah drastis seperti orang stress.Sato pelan-pelan menceritakan kejadian tadi malam pada Siska.
”Tadi malam kita berjalan-jalan ke rumah Pak Heru guru pembimbing untuk meminta saran untuk ujian nasional kami bicara-bicara tentang persiapan ujian nasional kita hingga larut malam tepatnya pukul 24.00 dan karena sudah malam kita berdua pulang kerumah tapi sebelum keluar rumah kita di beri pesan,” kata Sato panjang lebar.
“Awas ya di jalan, ” kata Pak Heru nasihati.
“Ada apa pak?” kata Sato penasaran.
“Ada pohon beringin katanya ada setannya!” serius Pak Heru.
“Ah, Bapak jangan nakut-nakutin kita dong!” kata Sato dengan wajah pucat
“Bapak juga nggak tahu benar atau tidak.”
“Kalau aku bertemu setan akan kun tonjok dia!” canda Cecep.
“Haaaa bercanda kamu!” kata Sato sambil tertawa.
“Stttttt...!”
Akhirnya kata itu keluar dari mulut Cecep. Mereka tak menghiraukan peringatan itu.Dan Sato terus ngoceh ketika Cecep menengok.
Mereka melangkahkan kaki dengan penuh was-was yang menyelimuti hati pergi dari rumah Pak Heru. Pelan tapi pasti mereka terus melanjutkan jejak kaki meski ada perasaan takut.Suara jangkrik yang bersenandung di depan,belakang, kanan,kiri membuat mereka bertambah khawatir.
“Itu suara apa, Cep!”
“Itu kan hanya jangkrik.”
“Tapi di mana sih pohon beringin itu Cep?”
“Halah jangan ditakutkan dia kan nggak bisa makan kita!”
Prok,prok,prok suara sandal mereka berdua sangat terdengar jelas pada malam yang kebetulan malam Jumat disertai hujan gerimis yang membasahi sekujur tubuh mereka. Dan pucuk-pucuk daun beringin itu makin terlihat jelas. Badan kami merinding menggigil seperti kedinginan dan rasanya seperti di kuburan.
“Tu, itu pohon beringin terlihat menyeramkan,” kata Sato khawatir.
“Tenang saja ada aku nih!” kata Cecep seperti berjiwa patriotik.
“Kamu bisa baca ayat kursi kan?”
“Nggak perlu baca yang gitu-gituan!”
“Ah, aku aaja yang lah yang baca ayat al quran!”
“Terserah kamu ajalah!”
Sato membaca ayat alqur’an dengan merundukkan kepalanya berjalan di belakang Cecep.Sebelum sampai di pohon beringin Sato kembali ngewel minta diajak kencing padahal hanya beberapa meter saja dari pohon beringin itu
“Aduh sudah nggak kuat nih pingin keluar!”
“Ditahan dulu sampai di rumah saja!”
“Lihat ada bayangan apa itu!” katanya sambil menunjuk bayangan putih.
“Kamu salah lihat kali aku nggak percaya sama setan!”
Tepat di depan pohon beringin terlihat bayang–bayang putih,rambutnya panjang,dan melayang.Daun pohon beringin berayun-ayun dan mengeluarkan suara gaduh,bising.Mereka hanya diam tanpa suara yang keluar dari mulut keduanya.
“Ada kuntilak terbang tuh!” kata Sato.
“Kamu mungkin hanya berhalusinasi saja!” kata Cecep.
“Nggak, coba lihat ke atas pohon itu!”
“Wahhhh apaan putih-putih itu!” katanya kaget.
“Kamu percaya kan!”
“Iy.Iy.Iy....iya!” kata Cecep gugup.
“Aku punya jurus canggih,” kata Sato.
“Jurus apa?”
“1,2,3 la,la,la...lariiiiiiii.....” kata Sato sambil membiarkan Cecep di pohon beringin itu
“Jangan, tunggu aku dong!”
“Emang kenapa?” kata Sato sambil berhenti sejenak.
“Kakiku terjebak di lumpur!”
Tiba-tiba kaki Cecep tak bisa digerakkan
“Ah, aku takut setan!” kata Sato terus melangkahkan kaki.
Sejenak Sato terdiam dari ceritanya lupa setelah itu apa yang terjadi
“Hey,hey setelah itu apa?” kata Siska penasaran.
“Sebentar aku lupa nih!” kata Sato sambil berpikir-pikir.
“Masa baru tadi malam lupa!”
“Iyalah karena tadi malam seram banget!”
“Oh, iya aku ingat”
Sato dengan mulut bak-blakan bercerita peristiwa itu lagi tanpa mengkhawatirkan keadaan Cecep yang masih trauma.
Tiba-tiba kuntilanak ada di depan cecep.Cecep sangat kaget terdengar minta tolong sangat keras
“Tolonggggg” kata Cecep menjerit-jerit.
“Kenapa tuh?” batin Sato ketika mendengar suara itu.
Sato mendengar jeritan itu dan kembali menuju pohon beringin itu.Dia melihat Cecep sudah terbaring tak berdaya dengan mata terpejam. Dia was-was dengan keadaan Cecep dan takut bila setan itu kembali lagi.
“Cep,Cecep kamu nggak apa-apa, Cep!” kata Sato berusaha menyadarkan Cecep sambil melihat kanan kiri.
Cecep masih tak berdaya Sato memutuskan mombopong badan temannya yang cungkring itu dengan hati-hati. Ketika itu hujan mulai turun lebat.Selang waktu berjalan dia akhirnya Cecep sadar dari pingsannya.
“Kenapa kamu menggendong aku!”kata Cecep.
“Kamu itu pingsan tadi!”
“Turunkan aku!”
“Kamu melihat apa tadi?”
“Nggak tahu tadi aku melihat wajah cantik,rambutnya lurus tapi matanya berwarna merah.”
“Kamu bisa jalan sendiri, kan?”
“Aduh pusing kepalaku!”
Malam itu mungkin malam tersial untuk mereka, pelan-pelan Sato memapah Cecep di atas pundaknya hingga di depan rumah Cecep.Tepat waktu itu hujan mulai reda dan kulihat jam didepan menunjuk waktu di angka 1.13 ternyata orang tua Cecep masih duduk di dalam rumah sambil menunggu kedatangan Cecep
“Assalamuallaikum”salam Sato sambil membaringkan badan Cecep di kursi teras
“Waalaikum salam,”jawab orang tua Cecep.
“Wah kenapa Cecep, Nak?”
“Dia tadi pingsan!”
Sato masuk ke dalam dan menceritakan panjang lebar tentang awal kejadian itu hingga dia membawa Cecep dalam keadaan tak berdaya hingga waktu menunjuk pukul tiga pagi dan Sato pamit pulang karena hari sudah pagi dan besok harus masuk sekolah.
* * *
“O gitu tho kejadiannya seru, ya!”ujar Siska.
Teetttttttt...bel sekolah menjeritkan suaranya dan terlihat Bu Ani ke luar dari ruang guru
Dan menuju ke ruangan kita
“Ayo kita masuk kelas!” kata Siska!
“Ayo Cep jadikanlah pelajaran hidupmu!” kata Sato.
Cecep tak menjawab, tetapi langsung berdiri dari kursi di teras kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasa.
