Thursday, 18 March 2010

WASIAT TERAKHIR
Oleh:Nur Rohmad

Tak kurasa hari demi hari yang kulalui begitu cepat berlalu tanpa ku ketahui hal-hal positif apa yang telah kulakukan untuk diri dan keluargaku.Akulah hanya seorang siswa kelas XII MAN 1 Surakarta yang hidup seadanya bersama kakek tercintaku pak Samidi yang sering ku panggil opa.hidup didesa kecil yang kumuh desa Putat. Sedang kedua kakakku merantau pergi dari desa kelahiran yang amat tercinta.Penderitaan hidupku semakin bertambah yang sangat sering ngelamun sendiri,belajar nggak konsen dan marah-marah sama orang tanpa ada sebab.Aku yang telah di tinggal kedua orangtuaku ke Arab Saudi sejak aku masih kelas 3 sd.Akupun harus merelakan keduanya di panggil oleh pencipta alam.ketika mereka mengalami sebuah insiden kecelakaan pesawat terbang sepekan yang lalu.demi menengok diriku karena telah 15 tahun tak pernah bertemu.Padahal aku sangat kangen dengan sosok keduanya.Mereka sangat sayang pada diriku aku teringat wajah ibu dengan tahi lalat yang ada diatas mata .Ayahku berkumis tebal yang sering memanja diriku.Aku kesepian dalam menjalani kehidupan yang kejam ini bersama kakek dari ayahku.

“Kek dulu sebelum ayah pergi adakah kejadian yang aneh saat itu tidak”tanya aku
“Dulu sebelum orangtuamu pergi seperti ada yang aneh pada perasaan kakek tapi kakek lupa”
“Coba kakek ingat-ingat lagi aku sangat penasaran kenapa aku begitu cepat di tinggal orangtuaku?
“Oh ya kakek baru ingat pada malam sebelum ibu dan ayahmu meninggal kakek bermimpi seisi rumah ini menangis tapi tidak tahu apa sebabnya”
“Tapi adakah pesan untuk kami kek”tanya aku
“Tidak ada”sedikit ragu-ragu dan merahasiakan sesuatu
“Terima kasih ya kek”
“Terima kasih untuk apa”
“Terima kasih atas jasa kakek yang telah merawat aku hingga besar”terisak-isak sambil meneteskan air mata
“Ya memang ini sudah kewajiban kakek”

Hari ini tepat tiga puluh hari kematian orang tuaku.Kakakku pertama Seno dan kakak keduaku Andre pulang ke rumah untuk mengunjungi makam ayah dan ibuku yang ada di desa.Awalnya mereka terlihat sangat akur membacakan surat yasin dengan sangat khusyu’setiba dirumah yang berawal dari omongan biasa berubah menjadi percekcokan yang dahsyat ketika masalah warisan orang tuaku .Dan setiap pembicaraan hanyalah warisan dan warisan yang menjadi masalah utama.Kakakku Seno ingin dapat bagian yang banyak begitu juga Kak Andre sama juga .
“Semua warisan harus di berikan padaku”kak seno
“Nggak bisa aku yang paling banyak “sela kak Andre
“Udah-sudah kita jangan ngomongin ini dulu”
“Ah kamu anak kecil tau apa”Kak Andre membentak
“Ya betul adikmu orang tua kalian meninggal malahan kalian rebutan warisan”sela kakek
“Tapi kek kenapa ibu tak membagi warisan pada kami”Kak Seno menyangkal
“Kita serahkan aja ke pak RT aja kan bisa adil”
“Nggak bisa pokoknya aku dapat rumah,sawah dan mobil.Kamu hanya dapat uang 15 juta”serakah kak seno
“Enak aja lho emang aku anak kecil”jawab Kak Andre tak mau kalah
“Terserah kalian”jengkel dan keluar dari rumah

Haripun sudah mulai larut malam dengan rembulan diatas awan hitam.Menunjukkan jam 24:00 tepat perdebatan malam ini tak kunjung usai.Aku malas mendengar mereka lalu bergegas menuju kamar tidurku dan ku rebahkan diatas kasur sambil melihat bintang bersinar di sela-sela genting kamar tidurku.Tapi masih ku dengar sesekali bentakan dari kak Seno.Tanpa ku hiraukan keduanya akupun tidur.

Sinar menyinari dari sela dinding kamarku dan angin berhembus kencang dari bawah.
Hari ini bertepatan empat puluh hari kematian kedua orangtuaku.Dan rencananya kami ingin menziarahi makam orang tuaku sembari berdo’a semoga mereka bahagia di surga.Dan kulihat kakakku duduk berjauhan dari kami orang yang ziarah saling bicara membicarakan kami.Mungkin mereka sudah tahu apa yang terjadi di dalam kehidupan berumah tangga

“Emang dulu orang tuanya kenapa ya”gunjing mereka
“mungkin banyak dosa”
“Kalian jangan menggunjing orang tuaku”membentak aku
Disaat kan pulang dri makam ayah tiba-tiba Kak seno dan Kak Andre berdebat lagi
“Urusan kita belum selesai”Kak Seno
“Urusan apa warisan,oke kalo gitu kamu mau apa?Kak Andre
“Aku mau kita gelut, yang menang dapat warisan lebih banyak”
“Ayo tapi jangan disini,kita disawah saja”
Kecemasanku semakin menambah akankah keluarga ini akan terpecah belah,dan kucoba melerai keduanya tapi tak berhasil.Dan tibalah keduanya di sawah diikuti para tetangga yang ikut ziarah.
“Ayo sekarang mau apa”sambil menodongkan pisau
“Ayo kita mulai perang ini”membawa golok
“Kena lho,mati lho ayo siapa yang menang”memajukan pisau dan mengenai pelipis kak Andre
“Yaaaaa”menjatuhkan golok ke muka kak seno
Dan akupun melerai berdua agar pertarungan ini tidak terjadi kembali,aku tepat diantara keduanya
“Kupukul lho pakai tanganku”dan pukulan itu mengenai wajahku hingga memerah dan perkelahian itu akhirnya berhenti dan mereka pun kabur dan lari dari sawah.

Malam sudah tiba.Warga beramai-ramai datang kerumah kami.Di rumah diadakan slametan untuk kedua orang tuaku dan kakakku duduk bersebelahan dengan kaki di tekuk mereka membaca do’a demi almarhum orang tuaku.Hatiku pun sedikit tentram mengelus dadaku kupikir masalah akan selesai.Tapi kenyataannya setelah pembacaan yasin selesai mereka bertindak aneh dan saling berdiam malahan malam ini pertikaian semakin menjadi jadi
“Kalau kamu nggak nurut sama aku kamu minggat dari rumah”
“Nggak bisa kamu yang minggat saja”
“Sudah,sudah kalian bisa diam tidak?”marah kakek

Dan bentakkan itulah yang menjadikan suasana rumah sepi dan sunyi.Semua terdiam seperti batu begitu juga aku.Tanpa sepatah katapun dari mulut yang keluar

“Kalian itu sudah besar sudah mengerti mana yang baik dan buruk”nasehati kakek
“Tenang kek,tenang”bujuk aku
“Kalau kalian terus begini mendingan kalian pergi dari rumah”marah
“Aku tidak mau”kak seno dan andre
“Kalau gitu masalah ini di bawa ke Ustadz ahmad”

Pada malam ini semuanya saling berbaikan dan setuju keputusan kakek.mereka berangkulan selayaknya adik kakak.Sebelum tidur kakek berpesan agar di dunia ini harus hati-hati terhadap permusuhan dan kakek menyampaikan wasiat dari kedua orang tuaku

“Sebenarnya dulu sebelum pergi ke Arab Saudi orang tuamu berpesan padaku”kakek
“Dulu kakek kenapa tidak jujur padaku”
“Aku tidak menyusahkan kaliuan dulu ketika itu”
“Terus apa pesan itu kek”
“Kalian harus mencari ilmu agama”jawab kakek
“Tapi dimana kek”
“Dipondok Al-Islamiyah di Jawa Timur pesantren pak Ustadz habibie”

Saat itu pula kami menundukkan kepala, kak seno sudah berkeluarga diapun tidak bisa begitu pula Kak Andre juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.Dan pilihan terakhir adalah aku.Aku pun mau melaksanakan wasiat itu meskipun aku belum begitu mengenal agama islam begitu mendetail.Tapi demi wasiat orang tuaku aku harus melaksanakan itu.

Hari empat puluh satu hari kematian orang tuaku.Kulaksanakan wasiat orang tuaku meskipun terik matahari menyengat tubuhku.Aku siap-siap merapikan barang yang harus kubawa dan tepat pukul 10:59 aku bergegas dari rumah dan merantau demi pencarian ilmu, yang harus meninggalkan sekolah,kampong halaman ku.Tutttttt…bel berbunyi dari depan rumah terlihat bus mini warna biru tua yang terparkir di rumah ternyata kakek telah menyiapkan mobil untukku.
“Selamat jalan cucuku semoga selamat sampai tujuan” nasehat kakek
“Iya kek semoga dapat ilmu yang bermanfaat”jawab aku sambil ku rangkul kakekku erat
Perlahan ku masuk ke dalam bus mini itu sembari menengok ke belakang.Dan aku meneteskan air mata yang tidak dapat tertahan di mataku.”hati-hatinya disana”nasehati kak seno dan kak andre

Satu bulan berlalu aku tidak kerasan dengan keadaan di pesantren harus makan apa-adanya dan ketika aku mau pulang Uztadz habibie memberi saran padaku supaya tetap melaksanakan wasiat orang tuaku.Dan aku pun tidak jadi meninggalkan pondok.

Satu tahun telah kulalui di jawa timur akupun mulai mengerti mengaji dan membaca al qur’an walaupun awalnya aku tidak mengerti agama sesekali aku mengabarkan keadaan diriku pada kakek dan kakakku aku mulai memperdalam pencarian agama hingga benar-benar hafal alqur’an.Baru setelah aku belajar selama 9 tahun aku merasa sudah mendalami agama islam.Aku sangat kangen dan aku mulai meninggalkan pondok Al-Islamiyah untuk pulang ke desa tercinta.Untuk belajar dirumah sambil mengajar di sekolah madrasah. Aku mulai bahagia hidup bersama kakekku apalagi dapat melaksanakan wasiat orang yang sangat ku cintai dan ku coba menghilangkan kenangan masa lampau hidup tanpa orang tua sebagai anak yatim piatu dan memulai hidup baru mulai dari nol.

Saturday, 13 March 2010

WASIAT TERAKHIR

Oleh:Nur Rohmad


Tak kurasa hari demi hari yang kulalui begitu cepat berlalu tanpa ku ketahui hal-hal positif apa yang telah kulakukan untuk diri dan keluargaku.Akulah hanya seorang siswa kelas XII MAN 1 Surakarta yang hidup seadanya bersama kakek tercintaku pak Samidi yang sering ku panggil opa.hidup didesa kecil yang kumuh desa Putat. Sedang kedua kakakku merantau pergi dari desa kelahiran yang amat tercinta.Penderitaan hidupku semakin bertambah yang sangat sering ngelamun sendiri,belajar nggak konsen dan marah-marah sama orang tanpa ada sebab.Aku yang telah di tinggal kedua orangtuaku ke Arab Saudi sejak aku masih kelas 3 sd.Akupun harus merelakan keduanya di panggil oleh pencipta alam.ketika mereka mengalami sebuah insiden kecelakaan pesawat terbang sepekan yang lalu.demi menengok diriku karena telah 15 tahun tak pernah bertemu.Padahal aku sangat kangen dengan sosok keduanya.Mereka sangat sayang pada diriku aku teringat wajah ibu dengan tahi lalat yang ada diatas mata .Ayahku berkumis tebal yang sering memanja diriku.Aku kesepian dalam menjalani kehidupan yang kejam ini bersama kakek dari ayahku.


Hari ini tepat tiga puluh hari kematian orang tuaku.Kakakku pertama Seno dan kakak keduaku Andre pulang ke rumah untuk mengunjungi makam ayah dan ibuku yang ada di desa.Awalnya mereka terlihat sangat akur membacakan surat yasin dengan sangat khusyu’setiba dirumah yang berawal dari omongan biasa berubah menjadi percekcokan yang dahsyat ketika masalah warisan orang tuaku .Dan setiap pembicaraan hanyalah warisan dan warisan yang menjadi masalah utama.Kakakku Seno ingin dapat bagian yang banyak begitu juga Kak Andre sama juga.


“Semua warisan harus di berikan padaku”kak seno

“nggak bisa aku yang paling banyak “sela kak Andre

“Udah-sudah kita jangan ngomongin ini dulu”

“Ah kamu anak kecil tau apa”Kak Andre membentak

“Ya betul adikmu orang tua kalian meninggal malahan kalian rebutan warisan”sela kakek

“Tapi kek kenapa ibu tak membagi warisan pada kami”Kak Seno menyangkal

“kita serahkan aja k eke pak RT aja kan bisa adil”

“Nggak bisa pokoknya aku yang paling besar”

“Terserah kalian”jengkel.


Haripun sudah mulai larut malam dengan rembulan diatas awan hitam.Menunjukkan jam 24:00 tepat perdebatan malam ini tak kunjung usai.Aku malas mendengar mereka lalu bergegas menuju kamar tidurku dan ku rebahkan diatas kasur sambil melihat bintang bersinar di sela-sela genting kamar tidurku.Tapi masih ku dengar sesekali bentakan dari kak Seno.Tanpa ku hiraukan keduanya akupun tidur.


Sinar menyinari dari sela dinding kamarku dan angin berhembus kencang dari bawah.

Hari ini bertepatan empat puluh hari kematian kedua orangtuaku.Dan rencananya kami ingin menziarahi makam orang tuaku sembari berdo’a semoga mereka bahagia di surga.Dan kulihat kakakku duduk berjauhan dari kami orang yang ziarah saling bicara membicarakan kami.Mungkin mereka sudah tahu apa yang terjadi di dalam kehidupan berumah tangga.

“Emang dulu orang tuanya kenapa ya”gunjing mereka

“mungkin banyak dosa”

“Kalian jangan menggunjing orang tuaku”membentak aku.


Malam sudah tiba.Warga beramai-ramai datang kerumah kami.Di rumah diadakan slametan untuk kedua orang tuaku dan kakakku duduk bersebelahan dengan kaki di tekuk mereka membaca do’a demi almarhum orang tuaku.Hatiku pun sedikit tentram mengelus dadaku kupikir masalah akan selesai.Tapi kenyataannya setelah pembacaan yasin selesai mereka bertindak aneh dan saling berdiam malahan malam ini pertikaian semakin menjadi jadi.

“Kalau kamu nggak nurut sama aku kamu minggat dari rumah”

“Nggak bisa kamu yang minggat saja”

“Sudah kalian itu sudah besar”marah nenek

Dan bentakkan itulah yang menjadikan suasana rumah sepi dan sunyi.Semua terdiam seperti batu begitu juga aku.Tanpa sepatah katapun dari mulut yang keluar

“Kalian itu sudah besar sudah mengerti mana yang baik dan buruk”nasehati kakek

“Tenang kek,tenang”bujuk aku

“Kalau kalian terus begini mendingan kalian pergi dari rumah”marah

“Aku tidak mau”kak seno dan andre

“Kalau gitu masalah ini di bawa ke Ustadz ahmad”

Pada malam ini semuanya saling berbaikan dan setuju keputusan kakek.mereka berangkulan selayaknya adik kakak.Sebelum tidur kakek berpesan agar di dunia ini harus hati-hati terhadap permusuhan dan kakek menyampaikan wasiat dari kedua orang tuaku.

“Sebenarnya dulu sebelum pergi ke Arab Saudi orang tuamu berpesan padaku”kakek

“apa itu kek”

“Kalian harus mencari ilmu agama”jawab kakek

Saat itu pula kami menundukkan kepala, kak seno sudah berkeluarga diapun tidak bisa begitu pula Kak Andre juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.Dan pilihan terakhir adalah aku.Aku pun mau melaksanakan wasiat itu meskipun aku belum begitu mengenal agama islam begitu mendetail.Tapi demi wasiat orang tuaku aku harus melaksanakan itu.


Hari empat puluh satu hari kematian orang tuaku.Kulaksanakan wasiat orang tuaku meskipun terik matahari menyengat tubuhku.Aku siap-siap merapikan barang yang harus kubawa dan tepat pukul 10:59 aku bergegas dari rumah dan merantau demi pencarian ilmu, yang harus meninggalkan sekolah,kampong halaman ku.Tutttttt…bel berbunyi dari depan rumah terlihat bus mini warna biru tua yang terparkir di rumah ternyata kakek telah menyiapkan mobil untukku.

“Selamat jalan cucuku semoga selamat sampai tujuan” nasehat kakek

“Iya kek semoga dapat ilmu yang bermanfaat”jawab aku sambil ku rangkul kakekku erat

Perlahan ku masuk ke dalam bus mini itu sembari menengok ke belakang.Dan aku meneteskan air mata yang tidak dapat tertahan di mataku.”hati-hatinya disana”nasehati kak seno dan kak andre

Satu tahun aku pergi ke jawa timur akupun mulai mengerti mengaji dan membaca al qur’an walaupun awalnya aku tidak mengerti agama sesekali aku mengabarkan keadaan diriku pada kakek dan kakakku aku mulai memperdalam pencarian agama hingga benar-benar hafal alqur’an. islam baru setelah aku belajar selama 9 tahun aku merasa sangat kangen dan aku mulai meninggalkan pondok Al-Islamiyah untuk pulang ke desa tercinta Aku mulai bahagia hidup bersama kakekku serta dapat melaksanakan wasiat orang yang sangat ku cintai dan ku coba menghilangkan kenangan masa lampau hidup tanpa orang tua sebagai anak yatim piatu dan memulai hidup baru mulai dari nol.

Wellcome